Mars Muhammadiyah (Sang Surya)

Posted on

Sang Surya Tetap Bersinar
Syahadat Dua Melingkar 
Warna Yang Hijau Berseri 
Membuatku Rela Hati 

Ya Allah Tuhan Rabbiku 
Muhammad Junjunganku 
Al Islam Agamaku 
Muhammadiyah Gerakanku 

Di Timur fajar Cerah Gemerlapan 
Mengusir Kabut Hitam 
Menggugah Kaum Muslimin 
Tinggalkan Peraduan 

Lihatlah Matahari Telah Tinggi 
Di Ufuk Timur Sana 
Seruan Illahi Rabbi 
Samina Wa Atthona 

Ya Allah Tuhan Rabbiku 
Muhammad Junjunganku 
Al Islam Agamaku 
Muhammadiyah Gerakanku 

Advertisements

Mars ‘Aisyiyah

Posted on

Wahai Warga Aisyiyah Sejati
Sadarlah Akan Kewajiban Suci
Membina Harkat Kaum Wanita
Menjadi Tiang Utama Negara
Ditelapak Kakimu Terbentang Surga
Ditanganmu-Lah Nasib Bangsa
Mari Beramal Dan Berderma Bakti
Membangun Negara
Mencipta Masyarakat Islam Sejati
Penuh Karunia
Berkibarlah panji matari
Menghias langit ibu pertiwi
Itu lambang perjuangan kita
Dalam menyebarluaskan agama
Islam pedoman hidup wahyu illahi
Dasar kebahagiaan sejati

Mari berbicara dg Cinta

Posted on

BICARA TENTANG CINTA

Oleh Evi Sufiani

Ahai, apa kabarnya yah dirikyu yg siang2 nan terik seperti ini berbicara ttg cinta. Tak ada angin ataupun hujan badai kok ngomongin cinta, apa gak bosen toh??

Okay, let’s check it out:

Inspirasinya: seorang sahabat yang sudah menikah dengan 3orang anak. Sekarang (sedang dalam kondisi) pisah rumah, dimana anak pertama ikut papa dan dua anak yg lain, ikut si mama. Gud. Masalahnya adalah, pisah rumah ini terjadi 2 tahun yl. Tanpa keputusan, dilanjut atau tidak.

Pertanyaan sederhana nya adalah: Mengapa harus selama itu untuk membuat keputusan, akan dibawa kemana biduk rumah tangga tersebut? Dan jawaban sederhanya adalah: begitu besar perasaan cinta antara si suami dan si istri itu dan sebesar itu pula lah egoisme mereka berdua untuk saling “mengalah” demi “kemaslahatan” bersama. Saya tau sekali bagaimana mereka berdua saling mengagumi satu sama lainnya, tapi sebesar kekaguman itu sebesar itu pula kebencian nya.

Artinya apa?? Artinya ego untuk “saling menguasai” satu dengan yang lain telah mengalahkan sebuah kebutuhan untuk perasaan mawaddah wa rahmah bagi kedua insan suami istri tersebut beserta anak-anak mereka. Mereka melupakan satu hal, bahwa ketiga anak mereka terpisah oleh ego kedua orang tua nya. Karena, si sulung, hingga detik ini, 2 tahun ini, ternyata belum bertemu sedetik pun dengan kedua adik dan mamanya. Sementara si papa, hanya bisa bertemu dengan dua putri nya maksimal 3 jam saja di hari minggu. si mama tidak mau tau kesulitan si papa untuk nyari duit, si papa gak mau tau perasaan si mama yang tidak bertemu putranya selama 2 tahun terakhir. Mereka saling mencoba menyakiti satu dengan yang lain tapi enggan untuk berpisah secara hukum Negara dan hukum agama. Aneh bnget kan??

C.I.N.T.A.

Cinta itu sangat luar biasa dahsyatnya. Cinta itu menggelorakan. Ruhnya mengikat. Kekuatannya mengubah. Menghidupkan. Menggelora. Mengarahkan.  Mengerahkan.  Memerdekakan. Sekaligus membutakan, kalo tidak dipandu dengan cahaya ilmu dan Iman. Bila tidak ditata dalam rangka ibadah, bila lepas dari akhlak yg mulia.
Begitulah CINTA.
1.Cinta itu memberi. Cinta itu membawa misi. Maka, deklarasikan. Buktikan. Jangan pernah lari dari komitmen. Berikan utk yg kita cintai. Senantiasa.
2.Cinta mengubah segalanya. Kesulitan, rintangan, dan ancaman adl bumbu sukses. Bila cinta dirawat, rintangan itu jd penggugah semangat utk melahirkan pribadi kuat. Menggerakkan. Membangkitkan.

3.Saat cinta harus memilih. Tidak usah BERPINDAH KE LAIN HATI, FOKUSKAN DISINI. Pada pilihan2 hidupmu. Pilihan risikomu.Pilihan jalanmu.Pilihan bahagiamu

(Imam Al-Biqay: Cinta yg tampak buahnya dlm sikap & perilaku, SERUPA dgn KEPATUHAN sbg HASIL RASA KAGUM pd seseorang). Kt bebas memilih. CINTALAH yg BERBICARA. Apapun cinta kita, apapun pilihan kita, sebenarnya itu utk KEPENTINGAN kita, NIKMAT di DUNIA maupun ‘tuk MERINDU SYURGA.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS: Al-Israa’: 36)
untuk memilih, gunakan CINTA.

yg pasti, kita harus mengambil peran besar dalam hidup ini. Membuat hidup ini sebagai sebuah MAHAKARYA, dengan mengerjakannya tanpa keterpaksaan. mengerjakan MAHAKARYA dengan CINTA yg membara ‘tuk sebuah sejarah besar, tanpa tekanan, tanpa paksaan dan ‘tuk meraih KEBAHAGIAAN.

============
utk melakukan apapun: LAKUKAN DENGAN CINTA
utk menghasilkan hasil yg terbaik: LAKUKAN DENGAN CINTA
utk mendapatkan kebahagiaan: BERIKAN CINTA
“dihampari jalan ke syurga dengan perkara-perkara yg sulit yg dibenci. Dihampiri jalan ke neraka dengan nafsu syahwat yg menggairahkan” demikian sabda Rasulullah.

Manakah yg lebih engkau CINTAI?

Dear sahabatku, Tetapkan PILIHAN lalu berFOKUS utk MENGEJARNYA. Berikan KOMITMEN yg penuh. lalu KERJAKAN dengan SUNGGUH-SUNGGUH utk mendapatnya. Tidak peduli hujan-badai krn kita TAU KEMANA ARAH MELANGKAH, yaitu MERAIH APA YG KITA CINTAI, MERAIH YG KITA DAMBA, MERAIH YG KITA VISI-kan….

Faidza azzamta fatawakkal ‘alallah…jika kamu telah berbulat tekad, maka bertawakkal-lah pada Allah.

Lagi2 CINTA yg menggelorakan.

Kerahkan seluruh potensi diri utk meraih IMPIAN dengan CINTA, lalu bertawakkal-lah pada Allah.

Menangkan diri dgn CINTA.

bacaan sholat beserta artinya

Posted on

DOA IFTITAH

ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA.

Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang.

INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.

Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik.

INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.

Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.

LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.

Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.

 

AL-FATIHAH

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

ARRAHMAANIR RAHIIM.

Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

MAALIKIYAUMIDDIIN.

Penguasa Hari Pembalasan.

IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU.

Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan.

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.

SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.

Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.

 

R U K U’

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

 

I’TIDAL

SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.

Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).

RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.

Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

 

 

SUJUD

SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.

 

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.

Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

 

TASYAHUD AWAL

ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.

Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.

Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD.

Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Nabi Muhammad.

 

TASYAHUD AKHIR

WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD.

Dan Kepada Keluarga Nabi Muhammad.

KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD.

Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

KAMAA BAARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID..

Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.

 

membunuh impian

Posted on

MEMBUNUH IMPIAN **versi berbeda**

Oleh: Evi Sufiani

Hari ini, saya berhadapan dengan KENYATAAN bahwa pengagungan pada IQ di jaman baheula, masih berdampak yang cukup massif hingga saat ini. Pengagungan IQ memberikan keleluasaan pada dominasi otak kiri dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang berdasarkan pada KENYATAAN saat ini. Fakta dan bukti adalah dua hal yang menjadi landasan utamanya mendampingi alat ukur yang bernama kuantitatif yang bekerja atas asumsi-asumsi dasar.

Pada saat kalangan minoritas “berteriak” tentang kecerdasan berganda, FAKTA pula lah yang disodorkan “pengikut” otak kiri yang sangat ter-organize. Tidak nyaman rasanya, jika mukaddimah tulisan ini  saya tulis karena terinspirasi dari tulisan Luthfie Nur Rosyidi dengan judul yang sama berbeda kemasan, hehehe.

Pada waktu tulisan itu “disodorkan” untuk saya komenin, saya benar-2 berada di pihak abu-abu, antara menjadi pendukung FAKTA dan di sisi yang lain, menjadi tidak konsisten, karena saya menyatakan bahwa, bukan faktalah yang harus ditakuti, tapi waktu yang berlalu, saat kesetiaan pada impian dipegang kuat dan kukuh sementara FAKTA demi FAKTA menyodorkan sebuah alamat kegagalan untuk segera ditinggalkan. Sebenarnya bukan kesetiaan lah mengapa seseorang begitu kukuh dengan impian nya, tapi DOMINASI OTAK KANAN akan sebuah keberhasilan meraih impian itu lah yang mendominasi dalam pengambilan keputusan, apakah harus membunuh impian atau bersetia ria dengan impian walau berhadapan dengan fakta-fakta kegagalan di sana sini.

Otak kanan lah yang “memberikan fakta” adanya kesuksesan di sebuah titik—entah dimana itu berada dan dalam waktu kapan faktadi lapangan itu benar-benar terjadi.

Tidak penting, apakah saya—atau anda—mempertanyakan kembali, apakah dalam proses pengambilan keputusan, saya menggunakan otak kanan atau kiri? Karena yang jauh lebih penting adalah DAMPAK dari pengambilan keputusan itu sendiri di kemudian hari. Dan besaran dari dampak ini sangat tergantung seberapa besar daya tahan diri kita terhadap fakta di lapangan. Karena nantinya, akan ada banyak opini, seperti …”tuh kan, saya sudah bilang toh sebelumnya” atau …”coba dulu kamu patuhi nasehat saya…” dan sebagainya yang sejenis dan setipe dengan pernyataan menyalahkan diatas. Dari opini-opini yang berkembang nantinya, sebenarnya, akan membuktikan tentang diri kita, apakah kita termasuk orang yang banyak berdalih, memiliki banyak alasan untuk membenarkan tindakan kita saat itu, ATAUKAH kita termasuk orang yang …”okay deh, saat ini saya salah, dan keputusan saya dulu, kurang tepat, tapi akan saya perbaiki sehingga tidak terulang kembali”.

Menerima kesalahan dan kekalahan sebagai sebuah titik loncat menuju sebuah percepatan keberhasilan di masa-masa setelah kekalahan, bagi saya pribadi BUKANLAH SUATU HAL YANG MUDAH DILAKUKAN OLEH SIAPAPUN. Butuh latian yang terus menerus untuk mengakui kesalahan dan kegagalan kita di depan public, adalah salah satu cara menjadi contoh dari orang-orang yang begitu keukeh dengan impian walaupun ada fakta-fakta yang terlibat dan terpapar diatas kertas. Pada sebagian besar orang, saat fakta telah berbicara pada ranah kenyataan hidup, maka sebagian besar dari mereka, memilih untuk membunuh impian itu.

Pertanyaan nya kemudian adalah, pada posisi mana seharusnya saya berpijak?? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, karena sifatnya yang kualitatif.

Ibu dan Peran

Posted on

IBU DAN PERAN-PERAN UTAMANYA

 

Ada beberapa hal yg mengusik saya dalam beberapa hari terakhir ini. Pertama, tentang peran ganda seorang ibu, yang bekerja di ranah public sekaligus di ranah domestic. Kedua, tentang peran laki-laki sebagai seorang pekerja yang harus mampu membiayai kebutuhan rumah tangganya. Ketiga, tentang anak-anak yang berada di lingkungan ayah dan bunda yang bekerja di ranah public, sehingga pengasuhannya selama di rumah diambilalih (sementara) waktu oleh pihak lain (entah oleh baby sitter, atau oleh pembantu rumah tangga atau anggota keluarga besar ayah atau bunda semisal kakek atau nenek atau tante).

 

Ketiga hal ini begitu mengusik saya, karena ada beberapa fenomena kekinian yang ada disekitar kita. Persoalan2 sederhana tentang anak-anak ini kemudian membuat saya terpikir tentang pola pengasuhan dari ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Fenomena yang saya tangkap dari beberapa sumber, yaitu pertama, adanya sebuah penelitian yang dirilis tentang remaja Indonesia (usia 12 – 20thn) yang telah melakukan hubungan seks pra nikah sebesar 62,5%. Hubungan seks pra nikah ini dilakukan baik dengan teman sebaya (55%) dan sisanya dengan laki-laki yang usianya diatas usianya (7,5%) (Sumber Kompasiana Edisi Minggu, 10Mei). Kedua, kenakalan anak-anak sudah menjurus pada kriminalitas (Sumber Memorandum). Ketiga, anak-anak mudah sekali merasa putus asa sehingga sedemikian mudahnya untuk melakukan tindakan bunuh diri atau bahkan membunuh orang lain hanya karena berselisih paham untuk hal-hal, menurut akal sehat adalah hal yg sepele. Keempat, acara televisi menyuguhkan ragam acara untuk anak dan remaja, dengan materi setengah dewasa.

 

Persoalan-persoalan yang melilit anak-anak dan remaja kita saat ini, pada beberapa hal telah menyentuh titik nadir yg harus mendapatkan perhatian penuh dari orang tua, sekolah dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

 

Kita bahas dulu tentang peran ganda seorang ibu di ranah domestic sekaligus di ranah public. Saya tidak menyalahkan peran ganda ini, karna dengan semakin majunya dunia pendidikan di Indonesia, semakin memungkinkan perempuan untuk berada di ranah public dan memiliki peran (amat) penting di dalamnya. Yang menjadi masalah adalah perempuan juga manusia yang butuh focus yang mendalam saat mengerjakan beban-beban kewajibannya. Sejatinya, saat perempuan berada di ranah domestic, sang ayah, selaku “partner” kerja, yang “seharusnya” paling memahami kondisi perempuan, “seharusnya” berbagi peran dan melakukan kerjasama yang baik dalam hal aktifitas-aktifitas domestic, se-misal pada pengasuhan anak, pendampingan pada anak-remaja dan bentuk kegiatan lainnya. Alasannya sederhana, kalau perempuan lelah bekerja seharian di kantor, laki-laki pun pasti akan mengalami hal yang sama, tetapi jika sekembalinya perempuan dari kantor masih dibebani pekerjaan-pekerjaan domestic (sendirian saja), itu sungguh tidak adil. Dilihat dari kacamata manapun, tidak tampak sebuah hubungan yang sehat dari laki-laki dan perempuan yang kebetulan berperan sebagai suami-istri; ayah-bunda. Seperti halnya tubuh yg sedang tidak sehat, maka bagian-bagian yg tidak sehat itu pasti akan menyakitkan dan mbuat menderita. Hubungan yang tidak sehat pun, pada bagian-bagian tertentu jelas akan menyakitkan.

 

Bagaimana seandainya perempuan tidak bekerja di ranah public, beliau hanya focus pada ranah domestic? Saya pribadi sangat menyetujuinya. Tetapi, tetap saja, ayah-suami-laki-laki adalah partner kerja bunda-istri-perempuan di ranah domestic yang tidak bisa meninggalkan tugas dan kewajiban pengasuhan anak hanya berada di tangan bunda-istri-perempuan. Anak, tetap saja membutuhkan peran-peran pendampingan ayah dalam keseharian kegiatannya. Selain itu, dukungan penuh dari sang ayah untuk peran-peran domestic bunda sangat dibutuhkan, tidak hanya dari sisi mental tetapi juga dari sisi materi dan pemberian edukasi yg searah dengan peran kedomestikan perempuan harus didukung penuh oleh ayah.

 

Pola pengasuhan paternalisitik yang begitu mengakar di budaya kita, sangat tidak pro perempuan yang bekerja di ranah public. Saya tidak menggugat bahwa perempuan harus memiliki peran yang tinggi di ranah public, sama sekali tidak. Saya justru lebih senang perempuan banyak berada di ranah domestic, berperan dalam keseharian pembentukan mental dan karakter anak, tetapi, pertama, dukungan financial yg kuat harus diberikan laki-laki sebagai sebuah opportunity cost yg harus dilewati perempuan yg melewatkan kesempatan utk berada di ranah public. Kedua, komitmen laki-laki utk berbagi peran dengan perempuan saat berada di rumah dalam hal pengasuhan anak. Bayangkan saja, setelah seharian berkutat dengan urusan tetek bengek rumah tangga dan anak, masa iya sih, laki-laki tidak ingin melewatkan masa sepulang bekerja-nya dengan bermain-main dengan anak, melakukan pendampingan pada anak, berkomunikasi dengan anak?? Ketiga, focus utama dalam peran-peran yang akan dipilih oleh perempuan, adalah anak sebagai hal yg utama, dan laki-laki sbg imam keluarga harus tetap memberikan arahan yg terbaik utk “makmumnya”, untuk itu dibutuhkan komunikasi dan pola hubungan yg sehat utk mewujudkannya.

 

resensi buku: 99 Cahaya di langit Eropa

Posted on

99 Cahaya di Langit Eropa

Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

 

Sulit mengatakan bahwa buku setebal 392 halaman (diluar lampiran2 dan halaman photo) ini sebuah novel, meskipun di sampul buku cetakan Kompas Gramedia ini tertulis Nasional Best Seller, Novel Islami. Kenapa sulit mengatakan ini sebuah novel? Karena seluruh catatan perjalanan dua orang penulis selama berada di benua eropa selama tiga tahun, merupakan tulisan yang sangat sarat sejarah bagaimana Islam sangat berjaya di Eropa di masa abad pertengahan, padahal masa itu, di eropa dikenal dengan masa kegelapan. Informasi yang detil tentang bagaimana peradaban islam di masa lalu, menjadi topik penting dari buku ini.

Ketertarikan para “turis” untuk mendatangi benua eropa, biasanya karena Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion sepak bola San Siro, Colosseum Roma atau malah gondola romantis  di sepanjang Venezia. Ditangan Hanum dan Rangga, Benua Eropa adalah sebuah jejak sejarah peradaban Islam yang sangat terkenal, yang tidak mendikotomikan agama di bawah ilmu pengetahuan. Agama dan Ilmu pengetahuan adalah kawan seiring seperjalanan dengan Al-Qur’an sebagai referensi utamanya. Di dalam Museum Louvre Paris Perancis, terdapat sebuah bangunan Section Islamic Art Gallery, yang menandakan bahwa pemerintah Perancis begitu menghargai karya-karya seni dari para tokoh Islam masa lalu. Dengan mudahnya kita memahami, siapa itu Picasso, Rodin ataupun Van Gogh (hal 150); tapi kenalkah kita dengan Pyxis Al-Mughira peninggalan Madinat Al Zahra, Stucco panel kaligrafi dari jaman Ibn Tulun? Pahamkah kita umat Islam bahwa terdapat Celestial Sphere by Yunus Ibn Al Husayn Al Asturlabi (1145) berupa peta antariksa ilmu falak yang dikembangkan ilmuwan Islam pada abad ke 12?

Peradaban Islam yang begitu maju di masa lalu di Eropa, diawali dengan kecintaan yang luarbiasa pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya. Dari quote ini, kita bisa melihat, bagaimana peradaban Islam saat ini. Kecintaan pada ilmu pengetahuan tidak lagi membuncah. Minimalisasi cinta ilmu pengetahuan ini bisa jadi karena kurangnya Iqra’, membaca. Dari sinilah kita mengetahui bahwa, esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan”. Karena barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya (hal 4). Lihatlah bagaimana ilmuwan Islam menemukan teknologi lensa sehingga tercipta kamera yang kita gunakan saat ini? Bukankah dasar-dasar Algoritma, Aljabar, Trigonometri juga diperkenalkan oleh ilmuwan Islam? Tanpa cabang ilmu-ilmu hitung tersebut, Neil Amstrong tidak akan pernah menjejakkan kakinya ke bulan (hal 152)

Averroes (Ibnu Rushd) dikenal sebagai bapak renaissance Eropa mengatakan bahwa kewajiban manusia hidup di dunia adalah untuk berfikir. Misteri peradaban Islam yang pernah mencoba mencapai seluruh sudut Eropa. Inilah bagian yang menjadi daya tarik novel ini, dan membuat rasa ingin tahu lebih banyak lagi untuk menyingkap misteri tersebut. Bagaimana akhir hidup Napoleon Bonaparte? Apakah sebagai seorang muslim kah? Bagaimana Mozart banyak menulis lagu bertema Alla Turca yang terinspirasi kedisiplinan militer Janissari Turki jaman dulu? Bagaimana dengan bunga Tulip? Dan banyak misteri lainnya yang tersaji dengan bahasa yang mudah dicerna, dan mendorong kita untuk segera tahu, bagaimana kelanjutan kisah di negara2 lainnya.

Menyelesaikan membaca buku ini hingga lembar terakhir, menguatkan kita sebagai seorang muslim. Bahwa (1) di belahan bumi manapun, menegakkan aqidah keislaman kita, berarti kita bersiap untuk menjadi “agen muslim sejati” yaitu sebagai muslim yang membawa rahmat bagi sekelilingnya, rahmatan lil alamin; (2) kebangkitan peradaban Islam adalah saat umat Islam kembali pada Al-Qur’an yang tidak sekedar dibaca, tetapi juga di pelajari dan diteliti detil artinya sesuai dengan bidang keilmuan kita. Menumbuhkan (kembali) kecintaan umat Islam pada Al-Qur’an, akan menjadi dasar kembali bersinarnya peradaban Islam seperti beberapa ribu tahun silam.