Resep Aneka olahan Tahu

Posted on

Bola-bola tahu goreng

bahan-bahan/bumbu-bumbu:
375 gram tahu putih, dihaluskan
1 sendok teh ebi, diseduh, disangrai, dihaluskan
50 gram wortel, dipotong dadu kecil, direbus
1 tangkai daun seledri, diiris halus
1/2 sendok teh garam 
1/4 sendok teh merica bubuk 
1/4 sendok teh kaldu bubuk 
1 putih telur, dikocok lepas
minyak untuk menggoreng 

Bumbu, Haluskan:
3 butir bawang merah, goreng
2 siung bawang putih, goreng

Cara membuat:

  1. Campur tahu putih, ebi, wortel, daun seledri, garam, merica, kaldu bubuk dan telur. Masukkan bumbu halus. Aduk rata. Bentuk bulat.
  2. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.

Untuk 23 buah

 

Tahu goreng Isi Crispy

Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
15 buah tahu kulit kotak, belah dua sisinya tidak putus

Bahan Isi:
150 gram daging giling 
2 siung bawang putih, haluskan
1 sendok teh garam 
1/4 sendok teh merica bubuk 
1/4 sendok teh penyedap rasa 
1 butir telur 
50 gram air es 
1 batang daun bawang kecil, iris halus
50 gram tepung sagu 

Bahan Pelapis:
250 gram tepung terigu protein sedang 
50 gram maizena 
1/2 sendok teh baking powder 
1/2 sendok makan garam 
1/2 sendok teh merica bubuk 

Bahan Pencelup (aduk Rata):
150 gram tepung terigu protein sedang 
20 gram maizena 
1/2 sendok teh garam 
1/4 sendok teh merica bubuk 
250 ml air es 

Cara membuat :

  1. Isi: aduk rata daging giling, bawang putih, garam, merica bubuk, penyedap rasa, telur, air es, dan daun bawang. Tambahkan tepung sagu. Aduk rata.
  2. Ambil tahu. Sendokkan isi ke dalam tahu agak munjung.
  3. Kukus 20 menit diatas api sedang sampai matang. Sisihkan.
  4. Pelapis, aduk rata tepung terigu, maizena, baking powder, garam, dan merica. Aduk rata.
  5. Lumuri tahu bakso dengan bahan pelapis.
  6. Celup ke dalam bahan pencelup satu per satu. Gulingkan lagi di bahan pelapis sambil dicubit-cubit.
  7. Goreng dengan minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.

 

Untuk 15 buah

Advertisements

Liburan Keluarga

Posted on Updated on

JUDUL: LIBURAN KELUARGA

by Fai H Juniarto

Liburan keluarga adalah saat yang paling aku suka. Tidak harus libur panjang sih, hari sabtu-minggu juga hari yang paling aku suka. Setiap sabtu malam, biasanya kami sekeluarga pergi nonton bioskop. Berangkat ke bioskop, setelah Mamaku datang dari tempat kursusnya. Oia, mamaku orangnya sangat energik, hobinya membaca segala jenis buku dan belajar, hehehe, beda jauh deh kayaknya dengan aku. (“__”).

Bagiku, membaca hanya menyenangkan jika bukunya: komik bergambar, novel sejarah seperti assasin creed. Tapi mamaku, beberapa kali, berhasil memaksaku membaca beberapa buku motivasi, seperti Notes From Qatar; atau On; atau beberapa judul lainnya yang aku lupa untuk mengingatnya. Mama, selalu bisa memaksaku untuk membaca, katanya sih untuk aku sendiri. Awalnya aku selalu marah jika dipaksa untuk rutin membaca. Tapi sekarang, aku nikmati saja, hehehe, mau bagaimana lagi. Pasti, aku kalah argumen dengan mama. Mama selalu punya alasan untuk membuatku memulai membaca…

Aktifitas Mama, setiap hari sabtu dan minggu dari jam 12.00 hingga 18.00, adalah mengikuti kursus brevet A dan B. Awalnya aku juga bingung, apa ya Brevet itu? Trus mengapa mama, mau-maunya untuk ambil les brevet ini? Ternyata, les brevet adalah sebuah les untuk bisa memahami peraturan perpajakan di Indonesia, beserta cara menghitung dan cara menginputkan ke lembaran laporan. Stop sampai disini. Apakah Pajak itu? Begini jawaban Mamaku. Pajak adalah sejumlah uang yang dibayarkan oleh warga negara indonesia yang mendapatkan tambahan ekonomis dari segala macam dan bentuk aktivitas, baik yang dilakukan di Indonesia maupun di luar Indonesia. Bingung kan? Sama. Aku juga bingung, makanya tidak usah dibahas lebih jauh lagi, biarkan Mama dengan segala kebingungannya (?) hehehe. Mengapa ya Mama ambil kursus brevet? Ternyata ini, adalah salah satu cara untuk memperlancar bisnis Papaku. Papa bagian marketing, Mama bagian administrasi keuangan. Hehehe, klop ya.

Papaku, memiliki beberapa aktivitas bisnis. Bisnis yang dikerjakan di rumah dengan beberapa orang pegawai, termasuk mamaku yang handle di bagian administrasi keuangannya. Enak banget sih, bisa ketemu papa dan mamaku setiap saat. Aku belajar banyak dari mereka berdua. Papaku punya hobi yang sama dengan aku, Nonton film di bioskop; nggame; utak atik komputer dan tidak suka olah raga yang banyak mengeluarkan keringat, hehehe. Kami berdua bisa berdiskusi lama sekali tentang sebuah film. Pengetahuan Papa tentang film, harus aku akui sangat hebat. Sedangkan Mama, sebenarnya mama ga suka nonton, kalaupun mama ikut nonton, karena Papa selalu bilang, INILAH LIBURAN KELUARGA kita, ahaaaaiii, sukanya \(0/)/.

Liburan keluarga yang murah meriah dan masih di seputaran surabaya saja ya..hehehe..tapi jangan dikira, kami sekeluarga tidak pernah berlibur keluar kota ya? Hehehe.. liburan yg paling paling paling berkesan adalah saat kami libur lebaran tahun 2013 kemarin. Kami sekeluarga, liburan ke Bali..ayai yai yai

**

Lebaran bulan Agustus 2013 kemarin, bener-bener berkesan bagiku. Hari terakhir ramadhan hingga hari ketiga lebaran, aku, Papa dan Mamaku berada di Pamekasan Madura. Tempat eyang-eyangku dan tempat Mamaku dilahirkan. Kegiatan rutin pada lebaran iedul fitri di keluarga Mamaku adalah acara halal bi halal keluarga besar eyang Ti. Kalau di tempat eyang Kung, acara rutinnya adalah menerima tamu, dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Maklum, eyang Kung adalah orang yang dituakan sekaligus disegani. Kalau menurut Mama, eyang buyutku adalah seorang Kepala Desa dg masa jabatan yang paling lama. Beliau dipercaya untuk menjadi kepala desa, karena agamanya sangat kuat, orangnya sangat sederhana, teguh pada pendirian dan kata Mama, waktu Mama masih kecil, mama suka diajak ke balai desa dengan berjalan kaki, sambil menyusuri pematang sawah, menyapa penduduk desa yang sedang bekerja di ladang dan di sawah. Pulang dari balai desa, selalu melewati jalan yang berbeda dengan jalan perginya. Masa kecil yang menyenangkan, kata Mama. Aku juga pernah merasakan, berada di sawahnya eyang Kung, bermain layangan, mengejar kucing, mengejar ayam. Seru banget. Eyang Kung tidak pernah marah, walaupun bajuku kotor. Kaki dan tangan ku juga kotor, hehehe. Seru banget ya. Kalian pernah juga merasakan seperti yg aku alami?? Berada di pedesaan dengan pemandangan yg masih segar, tanpa banyak asap dari knalpot kendaraan, bisa menikmati laron di malam hari, suara jangkrik dan suara kodok yg saling bersahut-sahutan. Berirama seolah-olah ada konduktor yang menyuruh mereka bernyanyi dan bersuara meramaikan suasana malam yang sepi. Yeeii… jadi pengen ke rumah eyang Kung lagi… \(0/)/

Hal yang paling aku rindukan di Pamekasan, di rumah eyang Kung, selain bermain-main di sawah dan di halaman rumah eyang kung yg sangat luas, adalah makanan dan sahabatku, Ferdi. Makanan yang paling aku suka adalah RUJAK. Bumbunya beda banget dengan rujak yg ada di surabaya loh. Kalo di surabaya, Mama punya stock petis, salah satu bahan pokok untuk membuat rujak. Petisnya berwarna coklat, karena petisnya berasal dari saripati ikan hasil tangkapan di laut. Yummy \(0/)/. Sahabatku, Ferdi, adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan dan adiknya laki-laki. Tahun 2012, dibulan Juli, bulan Ramadhan, Papanya Ferdi meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Waktu itu Ferdi masih kelas 6 SD, Tito, adiknya masih kelas 2 SD dan kakaknya Lia, masih kelas 12 SMU. Papanya Ferdi, adalah adik bungsunya Eyang Kung, biasanya, aku memanggil Om Ferdi, hehehe. Tapi, kadang aku lupa, hanya sebut Ferdi saja, maklum, umur kami, hamppir sama, aku hanya merasa aneh saja, kalo aku memanggilnya dengan sebutan om. Hehehe. Om Ferdi, adalah sahabat terbaikku, dia mengajari aku memanjat pohon, mengejar kucing, main layangan di sawah yang sedang tidak ditanami, hehehe. Lebaran tahun ini, adalah lebaran kedua bagi Tante Lia, Om Ferdi dan Om Tito, tanpa ada Papanya. Karenanya aku bersyukur sekali, masih ada Papa dan Mama yang setiap hari mendampingi aku. Mengajak belajar dan bermain, liburan bersama mereka. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, berikan kesehatan, kebahagiaan dan rezeqi untuk Papa dan Mamaku. Aamiin ya rabbal alamin.

**

20130814_134826

Ke Bali, dengan menggunakan transportasi darat, mobil. Papa yang nyetir mulai dari Pamekasan hingga Bali. Berangkat dari pamekasan sore, makan malam di Surabaya, sholat subuh di atas kapal. Makan pagi di Gilimanuk, agak susah mencari tempat makan yg halal, karena penduduknya yang muslim, rata-rata sedang merayakan iedul fitri di kampung halaman mereka. Tapi alhamdulillah ada tempat makan muslim di daerah gilimanuk, meskipun dengan rasa yang sangat pas-pasan. Hehehe. Papa dan Mama, mengandalkan GPS yg ada di android mereka. Sehingga tidak butuh waktu lama, kami sampai di Denpasar dg tanpa hambatan. Papa ternyata sudah booking hotel di daerah Nusa Dua. Kawasan BTDC, Bali Tourism Development Corporation. Sebuah kawasan elit yang ada di NusaDua. Tempat beberapa hotel mewah dan pastinya sebuah bangunan convention centre yang digunakan sebagai tempat Final Miss World 2013 dan berlangsungnya APEC 2013. Kami menginap di hotel Grandwhizz. Kata Papa sih, hotel ini, murah tapi tidak murahan. Kami memilih kamar deluxe yang menghadap ke kolam renang dan kolam jacuzzi. Seru banget.

Setelah makan siang, Papa dan Mama, istirahat. Aku, seperti biasa, ng game. Hehehe. Malamnya, kami makan malam di Pantai Jimbaran. Menikmati indahnya laut di malam hari, dg menikmati sajian makanan laut, yg sangat mahal, hahaha.. begitulah kata Mama. Aku menikmati, karena jarang sekali kita bisa main pasir di tepi pantai, di malam hari. Malam itu agak gelap, karena bulan masih dalam bentuk sabit. Penerangan yang sangat minimal. Kami pulang dari jimbaran sekitar pukul 24.00 waktu indonesia bagian tengah (WIT) atau sekitar jam 23.00 waktu indonesia bagian barat (WIB). Kami harus segera istirahat, karena esok harinya, kami akan menuju Tanjung Benoa, untuk melakukan see walker, para sailing, banana boat dll. Makan pagi di hotel, sangat menyenangkan, karena sangat jarang, orang yg berwajah seperti kami. Kebanyakan bule yang datang berombongan bersama keluarganya. Asiknya, bisa menyapa mereka untuk memperlancar kemahiran bahasa asingku \(0/)/.

Waktu tempuh dari hotel ke tanjung benoa, hanya 10 menit perjalanan, sangat dekat. Papa langsung menawari aku dan mama untuk beraktifitas see walker. Kami harus naik speedboat untuk bisa sampai ke tengah laut, waktu tempuh sekitar 15 menit. Mama dan Papa sangat ketakutan, karena di speedboat ini, tidak dilengkapi perlengkapan keselamatan yg standart. Mereka berdua sangat ketakutan, beda dengan aku yg sangat menikmati. Ombak agak besar, sehingga Mama agak merasa pusing. Mama dan aku turun dan berjalan di bawah laut sekitar 20 menit, menikmati pemandangan bawah laut yg sangat indah, subhanallah, indah sekali. Begitu naik ke atas speedboat, Mama ternyata muntah-2 [“_”] ahai Mama. Ombak besar, pengalaman see walker, perjalanan dg menggunakan speedboat yg tanpa pengamanan standar, ternyata membuat Mama muntah. Akhirnya kami kembali ke hotel. Setelah mandi, dan sholat yg sudah di jama’, Papa mengajak kami ke Tanah Lot, untuk menikmati sunset. Sepanjang perjalanan, pemandangan alamnya sangat indah. Tiba di Tanah Lot, Mama kembali bahagia, karena ada lokasi untuk berbelanja, yippi, shopping time for a woman is a great medicine, hehehe.

Hari ketiga, kami ke bedugul, sebuah lokasi yang sangat jauh dari Nusa Dua, tapi pemandangan alam sepanjang perjalanan yg sangat indah, menyejukkan mata dan terasa sekali, bagaimana industri pariwisata di Bali, dikelola dengan sangat baik. Penduduk setempat yang sangat antusias, baik dan jujur. Tiba di bedugul, ternyata masih ada upacara agama Hindu yg sedang berlangsung. Seorang Pandita Perempuan memimpin jalannya upacara. Inilah Bali yang unik, yang memegang teguh agamanya. Udara di Bedugul sangat dingin. Tanpa membawa jaket, ternyata sebuah kesalahan yang sangat fatal. Kami harus segera kembali, petualangan yang sebenarnya, baru akan dimulai esok hari. Di hari yang keempat, kami berada di Bali. Kami akan berangkat pagi-pagi sekali dari Nusa Dua menuju Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Ceningan. Kami akan berangkat dg menggunakan armada Bali Hai dalam program kegiatan OCEAN RAFTING. Ahai, bisa membayangkan kan, dahsyatnya rafting di Songa waktu kelas 6 yang lalu?? Sekarang kita akan melakukan ocean rafting.. aku merasa sangat excited. Tidak sabar menunggu esok hari, bayangan untuk melakukan rafting di tengah samudra, snorkling dan berselancar.

Ocean rafting, berangkat dari Tanjung Benoa, dg menggunakan perahu karet yang dinaiki oleh 23 orang penumpang dg 4 orang crew. Perahu karet itu dilengkapi dg tiga mesin motor boat berkecepatan tinggi hingga 46 knots, kata papa setara dg 85km/jam. Perahu karet ini panjangnya 12.6m. 20 orang penumpang ada yg berkebangsaan Rusia, Jepang, Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Sedangkan yang dari Indonesia, hanya aku, Papa dan Mama serta keempat orang crew. Perjalanan menuju Pulau Ceningan membutuhkan waktu sekitar 65 menit. Ombak sangat besar, sehingga baju kami basah. Tidak ada tanda-tanda langit akan mendung. Matahari bersinar dengan asiknya. Untungnya, kami sudah menggunakan sunblock, sebagai antisipasi jika matahari membakar kulit kami. Asiknya lagi, kamera yg aku bawa adl kamera yg anti air, yg bisa digunakan hingga kedalaman 10 meter dibawah permukaan laut. Asik kan?

Tiba di Pulau Ceningan, semua penumpang, kecuali Papa dan Mamaku, hehehe, turun untuk melakukan snorkling. Aku tidak punya pengalaman untuk melakukan snorkling, tapi ada pemandu yg akan membantuku untuk bisa dan aku sangat antusias untuk bisa melakukannya, karena pemandangan alam di bawah laut di Pulau Ceningan ini sangat indah. Kami berenang dan snorkling hampir 90 menit, bisa dibayangkan kan kulitku menjadi keriput karena dinginnya, hahaha. Setelah kami semua naik, perahu karet ini menuju Pulau Nusa Penida, untuk makan siang di atas perahu karet. Air laut sangat tenang, ikan-ikan seperti yg ada di film Finding Nemo berkeliaran di sekitar perahu karet. Makan siangnya aku ngambil sushi yg banyak. Hehehe \(0/)/. Selesai makan siang, masih di sekitar Pulau Nusa Penida, kami diberi kesempatan untuk melakukan snorkling dan memberi makan ikan dg roti kering. Ombaknya yang sangat tinggi, membuat banyak turis berselancar. Rasanya pengen ikut, tapi aku menikmati snorkling ini aja dulu, hehehe. 60 menit snorkling , akhirnya kami semua menuju ke Pulau Lembongan, melakukan village tour untuk mengetahui, bagaimana penduduk desa ini mendapatkan penghasilan yg hanya dari berproduksi rumput laut. Air bersih sangat sulit, penduduk setempat menyimpan dan menggunakan air hujan sbg air yg mereka gunakan untuk minum dan mandi. Kalau mereka kehabisan air bersih, maka mereka pasti akan mengeluarkan uang extra untuk membelinya di Denpasar. Wow..kasian juga ya mereka ini. Acara village tour ini, selama kurang lebih 50 menit. Selanjutnya kami menuju ke bagian lain dari Pulau Lembongan, menuju beach club. Yippi, fasilitas kolam renang, banana boat, parasailing, sailing, scuba diving, semuanya gratis. Semua boleh dicoba, tanpa ada biaya lagi. Di beach club ini, sangat exclusive, hanya terisi kami, para penumpang, para crews perahu karet, crews beach club, yg sedang bersiap-siang menyambut kedatangan rombongan cruise yang akan dinner di tepi pantai yg indah. Waktu yang diberikan hanya 120 menit, sudah termasuk mandi, sholat dan minum kopi atau teh. Aku menikmati semua fasilitas yg ada di beach club. Sayang kan kalo dilewati, gratis loh. Hehehe \(0/)/

Tiba di Tanjung Benoa lagi pada pukul 17.15 WIT, diantar oleh bis dari Bali Hai menuju hotel kami. Benar-benar membahagiakan pengalaman hari itu. Tidak akan terlupakan. Malam hari, bener-bener mengistirahatkan diri. Karena esok di hari kelima kami sekeluarga di Bali, akan kembali ke Surabaya

SEKSUALITAS (pornografi?), PERAN MEDIA DAN KONTROL MASYARAKAT

Posted on

SEKSUALITAS (pornografi?), PERAN MEDIA DAN KONTROL MASYARAKAT

Oleh: Evi Sufiani

 

Tidak diragukan lagi, saat ini untuk bisa menikmati seorang perempuan yang seksi dengan pakaian yang sangat minim dengan hampir semua bagian sex appeal-nya yang hampir tidak tertutup dapat dijumpai dengan mudah. Semua orang dalam berbagai tingkatan usia, pendidikan, pekerjaan dan jenis kelamin dapat menikmati semua itu dengan mudah dan murahnya. Tayangan bergambar perempuan ini kita beri label dengan pornografi. Sedangkan gambar laki-laki yang berseksi ria, tidak pernah ada label khusus yang dapat mewakili gambar laki-laki seksi tersebut. Pada penulisan kali ini penulis mencoba mengaitkan antara seksualitas dengan peranan media—sebagai penyebar informasi dan ilmu pengetahuan dan seberapa besar kontrol masyarakat.

Sebuah tayangan pornografi, eksploitasi sex appeal perempuan dalam sebuah media (baik cetak maupun visual bergerak), untuk saat ini merupakan barang  konsumsi yang mudah didapatkan dengan cara yang sangat murah, lihat saja sebuah tayangan sebuah lagu dengan background para penari latarnya yang memakai baju-baju seksi, nan terbuka dimana-mana. Atau cover majalah-majalah hiburan yang muncul setelah kran reformasi dibuka lebar-lebar. Atau peragaan busana untuk kaum perempuan, dengan dada nan terbuka dan belahan setinggi mungkin. Banyak sekali, dengan mudah kita mendapatkan kaum perempuan menjadi obyek dan subyek, sekaligus dari sebuah media (cetak dan visual).

Mengapa sensualitas perempuan menjadi begitu terekspos secara luas? Mengapa pula kaum perempuan sangat menikmati pada posisi yang tidak menguntungkan ini—dinikmati karena ke-sensualitas-annya? Mengapa perempuan sangat terlena dengan ungkapan-ungkapan manis bahwa eksploitasi merupakan “sebuah karya seni”?

Seksualitas merupakan hajat hidup seluruh umat manusia di muka bumi, anugerah paling mendasar dan terindah dari Allah SWT pada umat manusia. Seksualitas itu bersifat universal dan abadi. Sungguhpun demikian, dihampir semua peradaban dan kultur budaya, seksualitas merupakan barang privat, tertutup dan diatur dalam sebuah lembaga yang sangat agung dan dilegalkan baik oleh agama maupun oleh negara dengan aturan-aturan yang sangat ketat. Lalu sekarang dalam sebuah era informasi dan transformasi dengan segala kecanggihan teknologinya, berita, ulasan, kajian dan gambar seks, begitu mudahnya ditemukan dan begitu murah harganya. Sejalan dan seiring dengan itu berita, ulasan, kajian dan gambar tentang seks bersanding dengan kekerasan, sadistik dan pelecehan. Dimana korban terbanyak berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak (terutama sekali anak-anak perempuan). Padahal perempuan juga yang menjadi obyek berita, kajian, ulasan dan gambar-gambar tentang seks itu. Ironis sekali. Padahal dalam artian yang wajar, normal, seks selalu melibatkan dua pihak (perempuan dan laki-laki) secara wajar dan normal.

Pemberian porsi besar pada berita, kajian, ulasan dan gambar seksualitas dalam sebuah media pada berita seksualitas adalah dilihatnya kegiatan seksual sebagai sebuah alat untuk membuat laku media yang bersangkutan. Hal ini lebih disebabkan, media telah masuk dalam sebuah mesin giling kapitalisme dan gelombang konsumerisme. Media tidak lagi menghiraukan norma-norma yang masih “berlaku” di masyarakat. Hanya dengan dalih disukai pemirsa dan pembacanya, maka media bersedia mengumbar berita seksualitas dan perempuan sebagai obyeknya dengan harga beli yang cukup murah. Perempuan telah semakin menjadi “barang dagangan”. Perempuan telah menjadi sebuah benda “yang siap dijual kepada publik” dan seksualitas telah sekedar menjadi komoditi.

Memilah dan Memilih Sekolah

Posted on

MEMILIH DAN MEMILAH SEKOLAH

Oleh Evi Sufiani

Tahun ajaran baru telah di depan mata. Bagi beberapa orang tua murid yang saat ini putra/putri-nya berada di kelas 6 atau di kelas 9 atau di kelas 12, tentu tidak lah mudah melewatinya. Hati yang berdebar yang pertama telah dilewati saat mengetahui nilai unas. Debaran yang kedua, yaitu saat pendaftaran sekolah (kondisi ini tidak berlaku untuk orang tua yang memutuskan agar anaknya melanjutkan sekolah di sekolah swasta. Kondisi ini berlaku bagi orang tua yang MENGINGINKAN anaknya untuk berada di sekolah negeri—apatah lagi yang favorit).

Bersekolah di sekolah negeri, bagi orang tua akan meringankan dari segi pembiayaan bulanan dan tahunan. Disamping itu bersekolah di sekolah negeri berkaitan erat dengan GENGSI sang orangtua. Siapa sih yang gak bangga, jika anaknya bisa menjadi salah satu siswa di SMP Favorit, atau di SMA favorit atau di fakultas favorit di PTN terkemuka?? Keliatan banget kalo sang anak cerdas dan berkualitas. Bersekolah di sekolah negeri juga berkaitan dengan cita-cita sang anak (atau orangtua?? Hehehe), karena saat MEMUTUSKAN akan sekolah di SMP negeri, di step berikutnya, pastilah akan memilih di SMA Negeri dan akhirnya di PTN Terkemuka.

Berbeda dengan para orang tua yang “membiarkan” anaknya bersekolah di sekolah swasta. Karena bentuk skolah swasta pun bisa dibedakan menjadi dua, yaitu: pertama, copy paste sekolah negeri, yang berbeda muatan lokalnya doang. Skolah swasta jenis pertama ini pun, banyak banget bertebaran disekeliling kita. Baik yang berbasis agama maupun yg berbasis sekolah nasional plus, peminatnya juga banyak bnget, karena berkaitan dengan favorit atau tidak nya. Jenis sekolah swasta yang kedua adalah sekolah swasta yang berbasis sekolah alam atau sekolah kreatif. Tidak begitu banyak jumlahnya dan jumlah peminatnya pun begitu besar meski belum sebesar sekolah swasta jenis pertama.

Kalau ada orang tua yang “membiarkan” anaknya berada di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di jenis yang kedua, maka bisa kita “potret” orang tua jenis ini, karena, pertama, tidak mudah untuk berada di sebuah mainstream umum tentang “kegunaan” sekolah dan perolehan nilai yang sempurna di raport. Bisa dipastikan, orang tua yang menyekolahkan anak di skolah alam atau sekolah kreatif, adalah jenis orang tua yang “agak sedikit cuek” dengan nilai di raport—meski pun ada juga orang tua yang peduli banget, sehingga si anak hanya “mencicipi” di tingkatan sekolah dasar saja, selanjutnya, anak akan diarahkan ke skolah negeri atau sekolah swasta jenis pertama. Potret kedua, orang tua jenis ini, adalah jenis orang tua yang “menginginkan” anaknya tidak menjadi pegawai atau karyawan atau pekerja di organisasi orang lain atau di lembaga tertentu (semisal PNS). Masa sih?? Bisa jadi.

Maka, di posisi manakah kita hari ini sebagai orang tua?

http://alfiah.com/id/

Link Posted on

http://alfiah.com/id/

Butuh UPS?

Butuh SLA Battery?

Butuh Konsultan Mechanical Engineering?

contact us 031-71911444 

Mars Muhammadiyah (Sang Surya)

Posted on

Sang Surya Tetap Bersinar
Syahadat Dua Melingkar 
Warna Yang Hijau Berseri 
Membuatku Rela Hati 

Ya Allah Tuhan Rabbiku 
Muhammad Junjunganku 
Al Islam Agamaku 
Muhammadiyah Gerakanku 

Di Timur fajar Cerah Gemerlapan 
Mengusir Kabut Hitam 
Menggugah Kaum Muslimin 
Tinggalkan Peraduan 

Lihatlah Matahari Telah Tinggi 
Di Ufuk Timur Sana 
Seruan Illahi Rabbi 
Samina Wa Atthona 

Ya Allah Tuhan Rabbiku 
Muhammad Junjunganku 
Al Islam Agamaku 
Muhammadiyah Gerakanku 

Mars ‘Aisyiyah

Posted on

Wahai Warga Aisyiyah Sejati
Sadarlah Akan Kewajiban Suci
Membina Harkat Kaum Wanita
Menjadi Tiang Utama Negara
Ditelapak Kakimu Terbentang Surga
Ditanganmu-Lah Nasib Bangsa
Mari Beramal Dan Berderma Bakti
Membangun Negara
Mencipta Masyarakat Islam Sejati
Penuh Karunia
Berkibarlah panji matari
Menghias langit ibu pertiwi
Itu lambang perjuangan kita
Dalam menyebarluaskan agama
Islam pedoman hidup wahyu illahi
Dasar kebahagiaan sejati