ITS

Menutup Dolly, Sebuah Keharusan

Posted on

Seorang Mucikari dan beberapa pelacur diwawancarai oleh sebuah media televisi nasional, pd wawancara tsb, mereka mengatakan bahwa uang “tunjangan” Rp 5 juta, TIDAK CUKUP untuk dijadikan MODAL USAHA. Hmm… terus terang, saya agak ketenggengen dg wawancara tsb. 
Pertanyaan saya, arep buka usaha apa ya kok uang Rp 5juta (per bulan, hingga sekian bulan sejak ditutup) tidak cukup buka usaha?? Saya pernah mbakol sayur dengan uang sekitar 2 jutaan. Saya pernah jualan batik dg keliling kantor-kantor, modalnya sekitar 5 jutaan. Pernah jualan Jilbab, modalnya sekitar 1 jutaan.
Kalau saya punya uang Rp 5 juta cash, dan disuruh buka usaha, Sayaaaa, mikir jual makanan. Cash in/out flow nya cepet.

Nah kembali pada mucikari dan pelacur tadi yg mengatakan, uang Rp 5 juta (per bulan) tidak akan cukup. Saya bisa pahami itu. Pelacur2 ini adalah para pedagang kelamin dengan penghasilan harian lebih dari Rp 3 juta. Apakah uang tsb ditabung oleh mereka?? Rasa-rasane kok tidak ya. Lebih banyak untuk Lifestyle (gonta ganti hape, motor dsb); Rokok, Miras, Narkoba, Fashion dan perawatan diri mereka. Sehingga untuk anak dan orang tua di desa hanya mendapat “sisa-sisa” saja.

DARI SINI BISA KITA LIHAT, SUMBANGAN UNTUK PAD Kota Surabaya seberapa besar sih?? Bandingkan dengan retribusi iklan misalnya? atau parkir misalnya? Besar tah?? Secara yaaa, Dolly kan terbesar di Asia Tenggara

Menariknya dari pernyataan mucikari dan para pelacur itu adalah menggambarkan karakter mereka yg sesungguhnya, yaitu: TANPA PROSES, SERBA MUDAH, CEPAT dan INSTAN.
Karakter kerja keras, jujur, teguh pendirian dan sabar, seolah-olah menguap dari mereka (dan karakter2 ini pula lah yang telah hilang di sebagian besar masyarakat kita kayaknya yaa).

Masih inget Raeni, anak tukang becak yg berhasil dari sisi akademiknya?? dan masih banyak lagi anak-anak dari orangtua sektor informal lainnya yg berhasil dari sisi akademik bahkan berprestasi (Contoh Siswa2 dari SMANSA Pamekasan spt ini banyak sekali; anak dari keluarga tidak mampu, tapi berhasil “menembus” UNAIR, ITS, ITB, UGM, UI, IPB dan perguruan tinggi lainnya, dan lulus dengan nilai2 terbaik)

Adakah anak pelacur atau mucikari yg seperti ini?? Agak sulit sepertinya. Alasannya sederhana, mindset dan passion. Anak2 dari para mucikari dan pelacur ini “dididik” dg mindset dan passion yg serba instan, mudah dan cepat shg mereka kurang stok sabar. Dan yang pasti, anak2 yg tumbuh di lingkungan lokalisasi, lebih cepat tumbuh dewasa. Karena dengan mudahnya mereka mendapati LIVE SEX SHOW, anak2 dg mudahnya mendapati perempuan2 dg baju terbuka yg sedang berasik masuk dg laki-laki.

Dg kondisi seperti ini, harusnya kita semua tersadarkan, bahwa di lokalisasi:
1) Perempuan pelacur adalah korban dari nafsu laki-laki. Alat reproduksi mereka rusak, organ2 vital juga rusak akibat rokok, miras dan narkoba. Belum lagi yg menjadi sasaran kekerasan fisik
2) Anak-anak, mereka kehilangan masa kanak2 yg harusnya tidak melihat live pornography. Harusnya mereka mendapatkan pendidikan dari orangtuanya, pendidikan moral, etika, agama dan tahapan2 lainnya yg harusnya diberikan oleh orangtua sebagai pemberi contoh yg baik.

Dua pihak inilah yg menjadi korban HAM. Sadarkah kita??

Advertisements